DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Mengeringnya sumur gali yang menjadi sumber utama air bersih keluarga membuat sebagian warga di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Cukup banyak warga di daerah ini yang kesulitan air bersih sejak sebulan lalu. Bahkan ada yang mulai membeli air bersih sejak sekitar dua bulan silam.
Selain kalangan warga Kota Pelaihari, kesulitan air bersih juga dialami sebagian warga di perdesaan. Termasuk di Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Desa Gunung Raja menyalurkan air bersih kepada warga yang terdampak kemarau sejak sekitar dua bulan terakhir.
Distribusi dilakukan menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter dengan melibatkan relawan setempat (ERGR).
Kepala Desa Gunung Raja, Samsiar, menuturkan penyaluran air bersih dilaksanakan secara bergiliran dari satu rukun tetangga (RT) ke RT lainnya. Pembagian air dilakukan pada sore hari.
“Mobil tangki isi 5.000 liter. Bekerja sama dengan relawan ERGR, pembagian dilakukan bergiliran di setiap RT,” ujar Samsiar, Minggu (11/10/2026).
Mobil tangki yang digunakan untuk mendistribusikan air tersebut merupakan hibah dari anggota DPR RI, Hj Mariana.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pelayanan sosial kemanusiaan pemerintah desa dalam membantu warga memenuhi kebutuhan dasar ketika sumber air bersih rumah tangga tidak lagi mencukupi akibat kemarau.
Karakter Wilayah Memengaruhi Ketersediaan Air
Desa Gunung Raja memiliki karakter wilayah yang sebagian besar berada di dataran tinggi.
Kondisi ini berbeda dengan wilayah RT 6 yang letaknya terpisah cukup jauh dari pusat permukiman desa dan berada di kawasan rawa atau Bondong, berbatasan dengan Desa Benua Raya, Kecamatan Bati-Bati.
Di tengah kondisi kemarau, warga di sejumlah wilayah desa tersebut menghadapi persoalan ketersediaan air bersih, terutama ketika sumur gali yang selama ini menjadi sumber utama air keluarga mulai mengering.
Bagi rumah tangga yang bergantung pada sumur gali, kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan air sehari-hari menjadi lebih sulit.
Air tetap dibutuhkan untuk memasak, mandi, mencuci, serta memenuhi kebutuhan anggota keluarga lainnya.
Terulang Setelah Kemarau Ekstrem 2023
Samsiar mengatakan, pelayanan air bersih serupa pernah dilakukan Pemerintah Desa Gunung Raja pada 2023, ketika kemarau ekstrem juga berdampak terhadap ketersediaan air warga.
Namun, terdapat perbedaan sarana distribusi yang digunakan. Pada 2023, pemerintah desa membagikan air bersih menggunakan mobil pikap dan menampungnya dalam tandon berkapasitas 1.200 liter.
Sementara itu, pada 2024 dan 2025, warga disebut masih dapat memenuhi kebutuhan air bersih sehingga penyaluran bantuan seperti saat ini tidak diperlukan.
Kembali dilaksanakannya distribusi air bersih pada musim kemarau tahun ini menunjukkan kebutuhan terhadap pasokan air alternatif kembali muncul di tengah masyarakat.
Warga Rogoh Kocek Puluhan Ribu
Kesulitan memperoleh air bersih juga dirasakan warga di wilayah lain di Tanah Laut.
Sebagian masyarakat terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama sumur mereka mengering.
Samsuri, warga Kelurahan Angsau, Kecamatan Pelaihari, mengaku telah lebih dari sebulan membeli air bersih dengan harga sekitar Rp65 ribu per tandon berkapasitas 1.200 liter.
Menurut dia, air sebanyak itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama sekitar tiga hari. Di rumahnya terdapat lima anggota keluarga, termasuk anak kecil.
“Saya sudah lebih sebulan beli air bersih seharga Rp65 ribu. Karena di rumah ada lima jiwa, paling tahan tiga hari saja, apalagi masih ada anak kecil,” ungkap Samsuri.
Dengan harga air yang mencapai Rp60 ribu hingga Rp75 ribu per tandon berkapasitas 1.200 liter, pengeluaran untuk kebutuhan air dapat menjadi beban tambahan bagi keluarga, terutama apabila kondisi sumur kering berlangsung dalam waktu lama.
Samsuri mengaku pernah sekali menerima pasokan air bersih gratis dari sebuah organisasi keagamaan. Bantuan tersebut dirasakannya membantu meringankan kebutuhan rumah tangga di tengah keterbatasan air.
Respons pemerintah desa dan aksi kemanusiaan berbagai pihak dalam menyalurkan air bersih pun menjadi penting bagi warga yang terdampak.
Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan tersebut dapat mengurangi pengeluaran keluarga yang selama ini harus membeli air ketika sumur gali mereka tidak lagi dapat diandalkan.
(derapwaktu.com/roy)
Komentar (0)