DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Benarkah Matahari akan "ditelan" pada 12 Agustus 2026? Pertanyaan itu kembali ramai diperbincangkan menjelang terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT), sebuah fenomena langit yang sejak ratusan tahun silam selalu dikaitkan dengan mitos, ketakutan, hingga cerita-cerita mistis di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, khususnya dalam tradisi masyarakat Jawa, gerhana dikenal dengan kisah Batara Kala, sosok raksasa yang dipercaya sedang menelan Matahari. Saat gerhana terjadi, masyarakat zaman dahulu ramai-ramai memukul kentongan, lesung, hingga peralatan dapur agar Matahari kembali muncul.
Meski kini ilmu astronomi telah membuktikan gerhana hanyalah peristiwa ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi, kisah-kisah tersebut tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang menarik untuk dikenang.
Sayangnya, masyarakat Indonesia belum bisa menyaksikan langsung fenomena langka tersebut tahun ini.
Jalur totalitas Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 hanya melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, Spanyol, sebagian Portugal, dan Rusia utara.
Seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan, berada di luar lintasan bayangan Bulan.
Artinya, gerhana itu tidak akan tampak, baik sebagai gerhana total maupun gerhana sebagian.
Fenomena ini merupakan bagian dari Siklus Saros 126, yakni kelompok gerhana yang berulang setiap sekitar 18 tahun 11 hari 8 jam.
Gerhana sebelumnya dalam siklus yang sama terjadi pada 1 Agustus 2008, sedangkan berikutnya diperkirakan berlangsung pada 23 Agustus 2044.
Meski demikian, kabar baik masih menanti pecinta astronomi di Indonesia. Berdasarkan prediksi astronomi,
Gerhana Matahari Total akan kembali melintasi Indonesia pada 20 April 2042. Jalur totalitas diperkirakan membelah sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan, menghadirkan pengalaman langka ketika siang hari berubah gelap selama sekitar dua hingga lebih dari tiga menit.
Bagi banyak orang, pengalaman tersebut mungkin hanya datang sekali seumur hidup. Sebab, satu lokasi di Bumi rata-rata baru kembali dilintasi Gerhana Matahari
Total setelah ratusan tahun.
Meski indah, masyarakat diingatkan agar tidak menatap Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus. Pengamatan hanya aman menggunakan kacamata gerhana bersertifikat standar ISO 12312-2 atau melalui metode proyeksi tidak langsung, karena paparan cahaya Matahari dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata.
Warga Tanah Laut Ingin Rasakan Sensasinya
Warga Pelaihari, Muhammad Rizki (29), mengaku berharap masih memiliki kesempatan menyaksikan Gerhana Matahari Total yang diperkirakan melintasi Indonesia pada 2042.
"Kalau memang melintas di Indonesia, saya ingin datang ke lokasi terbaik untuk melihatnya langsung. Rasanya pasti luar biasa ketika siang tiba-tiba berubah gelap," ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Hal senada disampaikan Rahimah (35), warga Kecamatan Bati-Bati. Menurutnya, kisah-kisah gerhana yang dulu sering didengar dari orang tua membuat rasa penasarannya semakin besar.
Rincian Waktu Gerhana"Dulu saya sering dengar cerita Batara Kala menelan Matahari. Sekarang tahu itu hanya mitos, tapi tetap ingin merasakan sendiri bagaimana suasana gerhana total secara langsung," katanya.
Gerhana Matahari Total akan berlangsung pada 12 Agustus 2026 menurut waktu universal (UTC), sedangkan di Indonesia bagian barat hingga tengah sebagian besar fasenya sudah memasuki 13 Agustus 2026 dini hari.
Berikut rincian waktunya:
- Awal gerhana sebagian: 12 Agustus 2026 pukul 22.34 WIB atau 23.34 WITA.
- Awal fase total: 12 Agustus 2026 pukul 23.58 WIB atau 13 Agustus pukul 00.58 WITA.
- Puncak Gerhana Matahari Total: 13 Agustus 2026 pukul 00.46 WIB atau 01.46 WITA.
- Akhir fase total: 01.34 WIB atau 02.34 WITA.
- Gerhana berakhir sepenuhnya: 02.58 WIB atau 03.58 WITA.
Di lokasi yang berada tepat pada jalur totalitas, seperti Reykjavík, Islandia, gerhana mencapai puncak sekitar pukul 17.48 waktu setempat.
Sementara di Spanyol bagian utara, fenomena tersebut terjadi menjelang matahari terbenam sekitar 20.28–20.30 waktu setempat, menjadikannya salah satu lokasi terbaik di dunia untuk menyaksikan keajaiban langit tersebut.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)