DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Arus informasi yang begitu deras di era digital saat ini menjadi perhatian serius Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan. 

Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi keteguhan akidah, terutama bagi para mualaf yang masih dalam tahap belajar mendalami Islam.

Karena itu, MUI Tala melalui Bidang Dakwah dan Pengabdian Masyarakat menggelar Orientasi Penguatan dan Pengamalan Keislaman bagi Mualaf se-Kabupaten Tanah Laut, Sabtu (4/7/2026).

Sebanyak kurang lebih 40 mualaf mengikuti kegiatan yang berlangsung penuh antusias sejak pembukaan hingga sesi diskusi.

Ketua MUI Tanah Laut, KH Ahmad Syarifuddin Noor, saat dikonfirmasi Minggu (5/7/2026), mengatakan pembinaan terhadap mualaf merupakan bagian dari syiar Islam yang tidak boleh berhenti setelah seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Melalui dakwah dan pendidikan, kita ingin memperkuat keimanan serta pengamalan ajaran Islam," sebutnya. 

Tantangan era sekarang berbeda dengan masa Rasulullah. Kalau dulu perjuangan mempertahankan Islam dilakukan secara fisik, sekarang tantangannya datang melalui teknologi informasi, komunikasi, dan media sosial yang pengaruhnya sangat besar.

"Jadi, ibaratnya, dulu berjuang dengan pedang, sekarang berjuang dengan pena (tulisan)," tandas Pimpinan Pondok Pesantren Asy Syuhada Pelaihari ini.

Ia menambahkan, MUI juga mendorong keluarga mualaf agar terus meningkatkan pendidikan. Termasuk memanfaatkan kesempatan melanjutkan kuliah di Tanah Laut dengan berbagai kemudahan yang tersedia.

Selain membahas penguatan akidah, MUI juga mulai menyiapkan materi pembinaan lanjutan, termasuk bidang fatwa mengenai praktik muamalah, seperti etika berdagang menurut syariat Islam.

Dalam orientasi tersebut, KH Ilham Humaidi, Pimpinan Majelis As-Shofa Banjarmasin, mengupas materi "Belajar Ibadah dengan Benar dan Istiqamah." 

Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara sehingga setiap muslim harus membekali diri dengan ilmu agama yang benar.

Menurutnya, ibadah tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan keinginan sendiri, tetapi harus dipelajari dari guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Ilmu yang dipelajari juga harus diamalkan agar melahirkan ketenangan hidup dan keridaan Allah SWT.

Ia juga menegaskan pentingnya istiqamah dalam menjalankan ibadah. Bahkan ketika seseorang terkendala pekerjaan hingga terlambat menunaikan salat, kewajiban itu tetap harus ditunaikan melalui qada, bukan ditinggalkan begitu saja.

Materi berikutnya disampaikan Habib Ibrahim Assegaf dari Kintap mengenai penguatan tauhid sebagai pondasi kehidupan seorang muslim. 

Menurutnya, menjadi mualaf merupakan kehendak Allah SWT yang harus disyukuri dengan terus memperkuat keimanan.

"Allah-lah yang memberikan hidayah kepada seseorang untuk memeluk Islam. Cahaya keimanan itu harus dijaga dengan ilmu, ibadah dan akhlak yang baik," pesannya.

Suasana orientasi semakin hidup saat sesi tanya jawab. Salah seorang peserta bertanya mengenai sikap terhadap orang tua yang belum memeluk Islam. 

Menjawab hal itu, Habib Ibrahim mengajak para mualaf untuk terus mendoakan kedua orang tua agar memperoleh hidayah, sekaligus menunjukkan akhlak mulia melalui sikap hormat, bakti, dan perilaku yang baik kepada semua orang tanpa membedakan agama.

Pertanyaan lain membahas cara mempertahankan keimanan di tengah perkembangan zaman. Para narasumber sepakat bahwa benteng terbaik adalah memperkuat tauhid, memperbanyak belajar agama, menjaga istiqamah dalam ibadah, serta memilih lingkungan yang baik.

Pengurus MUI Tala, HM Riduansyah, mengatakan antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Banyak persoalan kehidupan sehari-hari yang dikonsultasikan langsung kepada para ulama sehingga orientasi tidak hanya menjadi forum ceramah, tetapi juga ruang pembinaan yang interaktif.

Pads sesi akhir dengan narasumber KH Abdurrahman Husein, paparnya, peserta juga sangat antusias. 

Pimpinan Pondok Pesantren Sirajul Huda ini mengupas materi; Menjadi Muslim yang Berakhlak Mulia di Tengah Masyarakat. 

Apresiasi datang dari kalangan warga di daerah ini. Fauzi Noor misalnya. Menurutnya, pembinaan seperti ini sangat dibutuhkan karena mualaf sering kali masih membutuhkan tempat bertanya setelah memeluk Islam.

"Yang dibutuhkan mualaf bukan hanya prosesi syahadat, tetapi pendampingan berkelanjutan agar mereka semakin mantap menjalankan ajaran Islam," katanya.

Hal senada disampaikan Bustani, warga Angsau. Ia berharap orientasi serupa dapat dilaksanakan secara berkala hingga tingkat kecamatan.

"Semakin sering pembinaan dilakukan, semakin kuat pula keimanan para mualaf. Mereka juga akan merasa diperhatikan sebagai bagian dari umat Islam," ujarnya.

(derapwaktu.com/dw1)