DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI— Dari luar, rumah kayu di kawasan Jalan Bhakti RT 3 RW 1, Kelurahan Karang Taruna, Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, itu masih terlihat seperti rumah biasa. 

Namun, ketika diperhatikan dari sisi kanan, kiri hingga bagian belakang, kondisi sebenarnya terlihat jelas. 

Sejumlah bagian dinding rumah telah keropos. Kayu yang menjadi bagian utama bangunan tampak dimakan rayap. 

Kondisi atap pun tidak lagi rapat sehingga air hujan berpotensi masuk ke dalam rumah.

Di beberapa bagian dinding, karpet bekas digunakan sebagai penutup tambahan. Upaya sederhana itu dilakukan untuk mengurangi rembesan air ketika hujan turun.

Rumah tersebut dihuni empat jiwa. Mereka adalah Hernani (50) bersama suaminya, Ahmad Basahil (55), serta dua anak mereka, yakni M. Usuf (24) dan M Ilyasa yang masih duduk di kelas V sekolah dasar.

Kondisi ekonomi keluarga itu membuat perbaikan rumah belum menjadi sesuatu yang mudah dilakukan.

Ahmad sehari-hari bekerja sebagai penjaga WC di kawasan Pasar Pelaihari, dekat los daging. Pekerjaan tersebut tidak memberikan penghasilan tetap.

Persoalan keluarga semakin berat karena dalam dua malam terakhir Ahmad harus menjalani perawatan di rumah sakit paru-paru.

Sementara Hernani tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, keluarga tersebut harus berjuang keras.

Kondisi rumah yang rusak akhirnya menjadi persoalan yang sulit mereka atasi. Keinginan untuk memperbaiki bagian rumah yang keropos dan atap yang bocor terbentur kemampuan ekonomi.


Sembako di Tengah Keluarga yang Sedang Kesulitan

Kondisi keluarga Hernani kemudian mendapat perhatian Marliana SAg, Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Pelaihari pada Kementerian Agama (Kemenag) Tanah Laut.

Marliana yang juga pengurus pusat IPARI sebagai Wakil Bendahara II serta Dai Kamtibmas Polda Kalsel ini menyambangi rumah Hernani pada Rabu (7/10/2026) siang. 

Ia datang membawa bantuan sembako untuk keluarga tersebut.

Bantuan sederhana itu membuat Hernani terharu. Matanya tampak berkaca-kaca ketika menerima sembako yang dibawa Marliana.

Bagi keluarga Hernani, bantuan tersebut sangat berarti, terlebih saat sang suami sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Ucapan terima kasih pun disampaikan Hernani kepada Marliana.

Tidak hanya memberikan bantuan kebutuhan pokok, Marliana juga melihat langsung kondisi rumah yang dihuni keluarga tersebut.

Ia menyatakan empati dan akan berupaya mencari jalan keluar untuk membantu memperbaiki sejumlah bagian rumah yang mengalami kerusakan.

Terutama bagian dinding yang sudah keropos serta atap yang tidak lagi rapat dan rawan mengalami kebocoran ketika hujan.

Marliana mengatakan, dirinya berupaya untuk terus bergerak mendatangi warga yang membutuhkan.

Menurutnya, kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bantuan kebutuhan pokok maupun upaya mencarikan solusi terhadap persoalan rumah warga menjadi bagian dari kepedulian yang dapat dilakukan secara langsung di lapangan.

"Setidaknya ini perlu dibantu perbaikan di bagian dinding dan atap yang miris kalau hujan. Akan kami bantu perjuangkan, insya Allah," ucap Marliana yang terus bergerak ke lapangan membersamai warga ekonomi lemah. 

Bagi keluarga Hernani, persoalan rumah bukan sekadar tentang bangunan kayu yang mulai lapuk. 

Di balik dinding yang dimakan rayap dan atap yang bocor, ada keluarga yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup, sementara kepala keluarga kini tengah sakit dan harus mendapatkan perawatan.

Kini, harapan keluarga itu sederhana: rumah yang lebih layak dan tempat berlindung yang aman ketika hujan kembali turun.

(derapwaktu.com/roy)