DERAPWAKTU.COM, THAILAND – Pagi itu seharusnya menjadi awal hari sekolah biasa bagi para siswa Debsirin Nonthaburi School, Thailand.

Namun, Jumat (7/8/2026) pagi, berubah menjadi hari yang tak akan mudah dilupakan.

Seorang remaja berusia 14 tahun (PY) datang ke sekolah membawa senjata api milik kakeknya. 

Tak lama kemudian, suara tembakan memecah ketenangan sekolah di Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, wilayah di barat laut Bangkok.

Yang membuat tragedi ini semakin memilukan, perjalanan menuju sekolah itu ternyata telah diawali dengan kematian dua orang yang sejak kecil merawat dan membesarkannya.


Dua Lansia Jadi Korban Pertama

Beberapa jam sebelum penembakan di sekolah, sekitar Jumat dini hari, remaja tersebut diduga mengambil pistol milik kakeknya dari rumah keluarga di kawasan Bang Bua Thong.

Informasi dihimpun, dari berbagai sumber, kakeknya yang berusia 73 tahun dan neneknya yang berusia 74 tahun kemudian ditemukan tewas ditembak.

Keduanya bukan orang asing bagi remaja tersebut. Mereka adalah pasangan lansia yang selama bertahun-tahun menjadi sosok pengasuh utama setelah kedua orang tuanya berpisah.

Setelah tragedi di rumah itu, remaja tersebut kemudian menuju sekolahnya dengan membawa senjata dan amunisi. Reuters melaporkan jarak antara rumah dan sekolah sekitar 18 kilometer.

Senjata yang digunakan disebut milik sang kakek dan terdaftar secara legal.


Sekolah Berubah Jadi Tempat Kepanikan

Sekitar pukul 10.00 waktu setempat, kepanikan pecah di Debsirin Nonthaburi School.

Seorang siswa yang seharusnya duduk mengikuti pelajaran justru menjadi pelaku dalam penembakan yang memenewaskan sejumlah guru dan staf sekolah.

Menurut laporan Reuters, pelaku mula-mula menyasar figur-figur di lingkungan sekolah, termasuk guru dan administrator. Lima orang staf sekolah akhirnya meninggal akibat serangan tersebut.

Di tengah rentetan tembakan, para siswa berusaha menyelamatkan diri.

Ada yang berlari, ada yang bersembunyi di ruang kelas, sementara sebagian lainnya bertahan dalam ketakutan sembari menunggu polisi mengamankan sekolah.

Reuters menggambarkan bagaimana para siswa menggunakan pesan melalui telepon untuk berkomunikasi dengan keluarga selama situasi genting tersebut. Seorang siswi bahkan meminta ibunya tidak menelepon karena khawatir suara telepon akan menarik perhatian pelaku.

Sekolah yang biasanya dipenuhi suara guru menjelaskan pelajaran dan siswa bercanda, mendadak berubah menjadi ruang penuh kecemasan.


Guru Berada di Garis Depan

Lima guru dan staf sekolah termasuk korban dalam tragedi tersebut.

Fakta ini menyisakan sisi kemanusiaan yang menyayat hati.

Ketika ancaman datang, para guru bukan hanya memikirkan keselamatan diri sendiri. Mereka juga harus berusaha menjaga agar para siswa tetap berada di tempat aman.

Di balik pintu-pintu kelas yang tertutup, terdapat anak-anak yang menunggu dalam ketakutan.

Di luar, guru dan staf menghadapi situasi yang tidak pernah mereka bayangkan akan terjadi di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar.

Laporan Reuters menyebut pelaku bergerak di antara sejumlah bagian bangunan sekolah selama sekitar 40 menit sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.


Delapan Korban, Satu di Antaranya Siswi  12 Tahun

Hingga laporan terbaru, total korban meninggal dalam rangkaian tragedi ini mencapai sembilan orang jika pelaku turut dihitung.


Delapan korban lainnya terdiri dari:

- dua kakek-nenek pelaku;

- lima guru dan staf sekolah; serta

- seorang siswi berusia 12 tahun yang sempat menjalani perawatan sebelum akhirnya meninggal.


Pelaku juga tewas setelah menembak dirinya sendiri ketika polisi mengepung posisinya.

Reuters melaporkan sedikitnya 23 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Dengan demikian, angka korban yang beredar pada jam-jam pertama kejadian berubah seiring proses identifikasi dan pembaruan kondisi para korban di rumah sakit.


Bukan Sekadar Soal Satu Senjata

Tragedi ini kini memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana seorang anak berusia 14 tahun dapat memperoleh akses ke senjata api dan membawa senjata tersebut ke lingkungan sekolah?

Pemerintah Thailand menyebut tekanan yang berkaitan dengan sekolah sebagai salah satu faktor yang sedang didalami.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul juga menyatakan bahwa aksi tersebut menunjukkan adanya unsur persiapan sebelumnya. 

Penyelidikan terus dilakukan untuk mengetahui secara utuh kondisi psikologis, latar belakang sosial, serta faktor-faktor yang mendorong remaja itu melakukan tindakan ekstrem tersebut.

Karena itu, penyebab tragedi ini tidak semestinya disederhanakan hanya pada satu faktor.

Tekanan akademik, kondisi psikologis, lingkungan sosial, akses terhadap senjata, serta berbagai faktor lain masih menjadi bagian dari penyelidikan.


Sekolah Ditutup, Trauma Tetap Tinggal

Setelah tragedi tersebut, Debsirin Nonthaburi School dijadwalkan menghentikan kegiatan tatap muka selama 10–14 Agustus dan melanjutkan kegiatan secara daring.

Namun, menutup gerbang sekolah tidak serta-merta menutup trauma.

Bagi siswa yang mendengar suara tembakan, bersembunyi di balik pintu kelas, atau melihat guru mereka menjadi korban, sekolah mungkin tidak akan pernah terasa sama lagi.

Ada anak-anak yang mungkin kembali ke bangku sekolah setelah beberapa hari.

Tetapi bagi sebagian lainnya, suara pintu dibanting, suara benda jatuh, atau bahkan bunyi keras yang sederhana bisa mengingatkan mereka pada pagi ketika sekolah berubah menjadi tempat yang menakutkan.


Pelajaran Paling Pahit

Tragedi di Nonthaburi meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar siapa pelakunya.

Ada dua lansia yang kehilangan nyawa di rumahnya sendiri.

Ada guru yang tidak pernah menyangka akan menghadapi maut ketika menjalankan tugas mendidik.

Ada seorang siswi berusia 12 tahun yang hidupnya berhenti terlalu dini.

Dan ada puluhan anak lain yang harus membawa luka yang mungkin tidak terlihat dari luar.

Pada akhirnya, tragedi ini kembali mengingatkan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar tentang masa depan—bukan tempat mereka belajar bagaimana menyelamatkan diri dari suara tembakan.

Di balik angka 9 orang tewas dan 23 orang terluka, ada keluarga yang kehilangan orang tercinta, ada anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan ada sebuah komunitas sekolah yang harus belajar kembali bagaimana melangkah setelah pagi yang begitu kelam.

(derapwaktu.com/dw1/reu)