DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Mencatat hasil penjualan belum tentu membuat pelaku usaha mengetahui keuntungan yang sebenarnya. Terlebih jika uang usaha masih bercampur dengan kebutuhan rumah tangga.
Kondisi ini bisa membuat perputaran modal tidak terpantau, biaya operasional luput dihitung, hingga pemilik usaha kesulitan mengukur perkembangan bisnisnya.
Persoalan mendasar tersebut menjadi perhatian dosen Program Studi D4 Akuntansi Perpajakan Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) saat menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Banua Tengah, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, Kamis (5/11/2026).
Melalui program bertajuk Peningkatan Literasi Akuntansi dan Pengelolaan Keuangan untuk Mendukung Keberlanjutan UMKM di Desa Banua Tengah, masyarakat dibekali pemahaman mengenai pembukuan sederhana hingga penyusunan laporan keuangan usaha.
Anindya Ratna Kartika Hady SAk MAk hadir sebagai narasumber. Ia menekankan bahwa tertib administrasi keuangan bukan sekadar urusan pencatatan, melainkan kebutuhan penting agar pelaku UMKM mengetahui kondisi usaha secara nyata.
Sebab, besarnya uang yang diterima dari penjualan tidak otomatis menunjukkan besarnya keuntungan. Ada biaya produksi, tenaga kerja, distribusi, hingga potensi kerugian produk yang harus diperhitungkan.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Koordinator Program Studi D4 Akuntansi Perpajakan Politala, M Riduan Abdillah SE MSi Akt CA bersama jajaran dosen.
Mulai dari Buku Tulis dan Catatan Harian
Dalam edukasinya, Anindya menjelaskan bahwa pembukuan usaha tidak harus dimulai dengan aplikasi berbayar atau sistem akuntansi yang rumit.
Pelaku UMKM dapat memulainya dengan kebiasaan sederhana, seperti menyimpan nota pembelian dan penjualan, mencatat seluruh uang masuk dan keluar setiap hari, memantau persediaan, serta membuat rekapitulasi keuangan pada akhir bulan.
Bahkan, buku tulis maupun fitur catatan di telepon seluler sudah bisa digunakan sebagai sarana awal.
Hal terpenting adalah kedisiplinan mencatat setiap transaksi dan memisahkan keuangan usaha dari uang pribadi.
Tanpa pembukuan yang tertib, pemilik usaha berisiko tidak mengetahui apakah bisnisnya benar-benar menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian.
Kondisi tersebut juga dapat menjadi kendala ketika pelaku UMKM membutuhkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan yang mensyaratkan informasi kondisi usaha.
Simulasi Tempe, Untung Bersih Rp5,6 Juta
Agar materi lebih mudah dipahami, peserta tidak hanya menerima penjelasan teori, tetapi juga diajak melakukan simulasi penghitungan keuangan berdasarkan contoh usaha yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satunya usaha produksi tempe. Dalam simulasi tersebut, peserta diperkenalkan dengan konsep harga pokok produksi (HPP), yakni penghitungan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.
Komponen yang dihitung meliputi pembelian kedelai, ragi, bahan pembungkus, tenaga kerja, energi, hingga penyusutan peralatan produksi.
Dari simulasi produksi sebanyak 2.700 kilogram tempe, total biaya produksi tercatat Rp20,55 juta. Dengan harga jual Rp10.000 per kilogram, nilai penjualan mencapai Rp27 juta.
Namun, keuntungan tidak berhenti dihitung dari selisih penjualan dan biaya produksi. Ongkos pengantaran serta kerugian akibat produk rusak atau tidak terjual juga harus diperhitungkan.
Setelah seluruh komponen biaya dikalkulasikan, simulasi tersebut menghasilkan keuntungan bersih Rp5,6 juta dalam satu bulan.
Contoh ini memberikan gambaran bahwa omzet besar belum tentu mencerminkan keuntungan yang besar pula. Ketelitian menghitung seluruh pengeluaran menjadi kunci untuk mengetahui hasil usaha sesungguhnya.
Peternak Ayam Plasma Jangan Hanya Hitung Hasil Panen
Contoh lainnya menyasar sektor peternakan ayam dengan sistem kemitraan plasma.
Dalam pola usaha ini, perusahaan inti menyediakan bibit ayam, pakan, dan obat-obatan. Sementara peternak bertanggung jawab menyediakan kandang, peralatan, serta tenaga untuk pemeliharaan.
Pada simulasi satu siklus pemeliharaan, sebanyak 2.000 ekor ayam menghasilkan 1.900 ekor ayam panen.
Peserta kemudian diajak menghitung pemasukan dari hasil penjualan, bonus, serta berbagai komponen pengeluaran, termasuk biaya bibit, pakan, obat-obatan, tenaga kerja, dan operasional kandang.
Setelah seluruh komponen diperhitungkan, keuntungan bersih dalam simulasi tersebut mencapai Rp6 juta.
Melalui contoh ini, peserta diperlihatkan bahwa hasil panen dan besarnya penerimaan belum cukup untuk menggambarkan keuntungan peternak.
Pencatatan jumlah ayam mati, penggunaan pakan, serta biaya operasional menjadi bagian penting untuk mengetahui efisiensi pemeliharaan sekaligus mengantisipasi risiko kerugian.
Laporan Keuangan Jadi Modal UMKM Berkembang
Selain pencatatan transaksi harian, peserta juga diperkenalkan dengan tiga komponen laporan keuangan sederhana yang mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM).
Ketiganya meliputi laporan laba rugi, laporan posisi keuangan atau neraca, serta catatan atas laporan keuangan.
Laporan laba rugi membantu pelaku usaha mengetahui pendapatan dan beban selama periode tertentu. Neraca memberikan gambaran mengenai aset, kewajiban, dan modal yang dimiliki.
Sementara catatan atas laporan keuangan menjelaskan informasi penting terkait kondisi usaha dan kebijakan pencatatannya.
Pemahaman tersebut diharapkan membuat pelaku UMKM lebih terukur dalam mengambil keputusan, mulai dari mengendalikan pengeluaran, mengatur perputaran modal, hingga mempersiapkan persyaratan administrasi ketika mengajukan pembiayaan.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, Prodi D4 Akuntansi Perpajakan Politala berupaya membawa pengetahuan akademik lebih dekat dengan kebutuhan ekonomi masyarakat desa.
Pesan mendasarnya sederhana, tetapi penting bagi keberlanjutan usaha kecil: jangan hanya sibuk menjual produk dan menghitung uang yang diterima.
Pelaku usaha juga harus mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan, berapa keuntungan yang benar-benar diperoleh, dan berapa modal yang harus disiapkan untuk menjalankan usaha berikutnya.
(derapwaktu.com/banyulangit)
Komentar (0)