Lomba kelotok yang digelar Pemerintah Desa Benua Raya bersama para relawan itu menjadi salah satu cara warga setempat memaknai HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Alur sungai berubah menjadi arena adu kecepatan, sementara tepian sungai dipenuhi penonton yang tak ingin melewatkan keseruan perlombaan.
Antusiasme warga menjadi warna paling menonjol.
Sorak-sorai terdengar saat kelotok peserta melaju dan saling mengejar di sepanjang lintasan.
Bagi masyarakat, kegiatan semacam ini bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi momentum berkumpul dan mempererat kebersamaan.
“Seru sekali, apalagi lombanya di sungai dan bisa ditonton ramai-ramai. Mudah-mudahan tahun depan digelar lagi dan pesertanya semakin banyak,” ujar salah seorang warga yang menyaksikan perlombaan.
Kemeriahan tersebut turut mendapat apresiasi dari Camat Bati-Bati H Nor Hilmi, S.Sos. Ia menilai inisiatif Pemdes Benua Raya bersama para relawan patut diapresiasi karena mampu menghadirkan kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
“Lomba kelotok ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81. Panitianya dari Pemdes Benua Raya bersama para relawan sekitar,” kata Nor Hilmi.
Menurutnya, daya tarik lomba semakin kuat karena peserta datang dari sejumlah desa yang berada di kawasan pesisir sungai, baik dari wilayah Kecamatan Bati-Bati maupun luar kecamatan.
Kepala Dinas Pariwisata Tanah Laut Zulfuadin, S.Sos., juga hadir bersama Camat Bati-Bati, unsur Bhabinkamtibmas, Babinsa dan tokoh masyarakat.
Lomba kelotok sekaligus memperlihatkan bagaimana potensi sungai dan aktivitas masyarakat setempat dapat dikemas menjadi hiburan rakyat.
Di tengah perayaan HUT RI, kegiatan tersebut menghadirkan suasana berbeda: kemerdekaan dirayakan dengan semangat kebersamaan, kreativitas dan kearifan lokal.
BagBagi warga Benua Raya, riuh kelotok di bawah Jembatan Bidadari bukan sekadar tontonan sehari. Ia menjadi gambaran bagaimana tradisi dan potensi lokal masih mampu menyatukan masyarakat dalam suasana perayaan kemerdekaan.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)