DERAPWAKTU.COMPELAIHARI — Jalan Hadji Boejasin Pelaihari berubah menjadi lautan manusia saat Tala Ethnic Carnival (TEC) 2 Tahun 2026 digelar,.Sabtu (15/8/2026) malam hingga Minggu (16/8/2026) dinihari.Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan parade budaya yang memadukan busana etnik, wastra, kreativitas generasi muda dan keberagaman masyarakat Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan. 

Namun bagi Pemerintah Kabupaten Tanah Laut, kemeriahan TEC 2026 bukan sekadar keberhasilan menggelar pesta rakyat.

Bupati Tanah Laut H Rahmat Trianto justru melihat antusiasme warga dan peningkatan jumlah peserta sebagai sinyal kuat bahwa TEC memiliki peluang dikembangkan menjadi festival budaya berskala Kalimantan.

“Ini merupakan kegiatan tahunan dan kali kedua kita melaksanakan karnaval seperti ini. Jumlah pesertanya meningkat, dari sekitar 50 menjadi hampir 70. Ini menunjukkan semangat masyarakat untuk berpartisipasi,” ujar H Rahmat.

Dari penyelenggaraan kedua ini, Pemkab Tala mulai membidik langkah yang lebih besar. Rahmat berharap TEC ke depan tidak hanya diikuti peserta dari Tanah Laut, tetapi juga melibatkan kabupaten dan kota lain di Kalimantan Selatan.

“Ke depan kita berharap bisa melibatkan kabupaten dan kota lain di Kalimantan Selatan,” katanya.


Bukan Sekadar Karnaval

H Rahmat menilai TEC memiliki modal penting untuk berkembang karena tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga membawa pesan keberagaman.

Tema “Unity in Diversity” menjadi gambaran keberagaman masyarakat Tala yang hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang budaya.

“Perbedaan inilah yang menjadi kekuatan kita. Kita memiliki beraneka ragam suku dan budaya, tetapi semuanya bisa bersatu dalam satu kegiatan. Inilah makna dari tema Unity in Diversity,” jelasnya.

Menurut H Rahmat, pembangunan daerah juga tidak cukup hanya berorientasi pada infrastruktur. Budaya, seni, kreativitas dan pembangunan sumber daya manusia merupakan bagian yang harus berjalan beriringan.

“Kita membangun sumber daya manusia, infrastruktur, budaya, kesenian dan semuanya. Semua harus kita gabungkan untuk kemajuan Tala dan Kalimantan Selatan,” tegasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan potensi ekonomi kreatif daerah. 

Pemerintah daerah memiliki berbagai agenda yang mendorong penguatan industri, wastra dan kreativitas masyarakat Tala.

Antusiasme masyarakat menjadi energi lain bagi pengembangan TEC.

Husaini, warga Tala, menilai ramainya penonton menunjukkan masyarakat membutuhkan ruang hiburan sekaligus ruang untuk mengenal kembali budaya lokal.

“Warga sangat ramai dan kelihatannya menikmati. Saya berharap tahun depan konsepnya bisa dibuat lebih besar lagi, tetapi tetap kuat menampilkan budaya Tanah Laut,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak budaya lokal diperkenalkan melalui TEC, terutama kepada anak-anak dan generasi muda.

“Kalau anak-anak melihat langsung acaranya, mereka lebih mudah tertarik. Semoga semakin banyak budaya lokal yang ditampilkan,” katanya.

Menurutnya, dampak TEC juga terasa bagi pelaku UMKM. Membludaknya pengunjung membuat pedagang makanan, minuman dan usaha kecil di sekitar lokasi memperoleh tambahan konsumen.

Soraya, warga Tala lainnya, bahkan melihat TEC berpeluang menjadi event yang ditunggu masyarakat setiap tahun.

“Kalau rutin dan terus diperbaiki, saya yakin bisa menjadi acara yang ditunggu setiap tahun. Bahkan mungkin bisa menarik orang dari luar Tanah Laut,” ujarnya.


Jalan Kota Jadi Panggung Budaya

Pada pelaksanaannya, TEC 22026 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tala di bawah kepemimpinan Myrza Fazrina (kadis) tersebut membuat Jalan Hadji Boejasin menjadi panggung budaya terbuka.

Warga memenuhi sisi jalan dari titik start hingga kawasan depan Mal Pelayanan Publik Pelaihari. Tepuk tangan dan sorakan terdengar ketika peserta melintas, sementara kamera telepon seluler warga terus mengabadikan setiap penampilan.

Peserta berasal dari sekolah, organisasi, masyarakat umum hingga perangkat daerah.

Kostum yang ditampilkan tidak hanya mengangkat tradisi lokal, tetapi juga memadukan unsur etnik Nusantara dengan sentuhan modern. Wastra dan ornamen tradisional diolah menjadi penampilan yang atraktif dan lebih dekat dengan generasi muda.

Kondisi tersebut membuat budaya tidak hadir sebagai sesuatu yang kaku. Budaya tampil sebagai pertunjukan yang bisa dinikmati keluarga, anak-anak hingga masyarakat umum.

Di sisi lain, keramaian juga menciptakan perputaran ekonomi bagi pedagang dan UMKM di sekitar kawasan kegiatan.

Tiga Juara Utama

Kompetisi kreativitas menjadi bagian dari TEC 2026.

Pada kategori SKPD, Juara I diraih Kecamatan Takisung. Untuk kategori sekolah, Juara I diraih SMK Negeri 1 Takisung, sedangkan kategori organisasi dimenangkan Lintang Kencana.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas TEC tidak hanya lahir dari satu kelompok. Perangkat daerah, sekolah dan organisasi masyarakat sama-sama mendapat ruang untuk menampilkan gagasan serta ekspresi budaya.

Dari Pelaihari Menuju Panggung Kalimantan

Bagi Pemkab Tala, TEC 2026 menjadi pijakan penting. Jumlah peserta yang meningkat, ribuan warga yang hadir, kreativitas generasi muda serta peluang ekonomi yang muncul menjadi modal untuk membawa event tersebut ke tingkat yang lebih tinggi.

Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi penyelenggaraan, memperkuat identitas budaya Tala, meningkatkan kualitas parade dan memperluas keterlibatan daerah lain.

Jika pada penyelenggaraan kedua hampir 70 peserta sudah mampu menghidupkan kawasan utama Pelaihari dan menarik antusiasme besar masyarakat, bukan tidak mungkin TEC berkembang menjadi agenda budaya yang gaungnya menembus Tanah Laut.

Dari Pelaihari, Pemkab Tala kini mulai menanam ambisi lebih besar: menjadikan Tala Ethnic Carnival bukan sekadar karnaval tahunan, melainkan festival budaya yang dikenal di Kalimantan.

(derapwaktu.com/dw1)