Tradisi tersebut bukan pencurian dalam arti sebenarnya, apalagi penculikan dengan kekerasan.
Sebagai informasi, Minggu (16/8/2026), Gerewol merupakan festival tahunan yang menjadi ajang para pria Wodaabe berdandan, menari, sekaligus memamerkan ketampanan untuk menarik perhatian kaum perempuan.
Uniknya, perempuan memiliki peran penting dalam menentukan pilihan. Bahkan, perempuan yang telah menikah dapat memilih pria lain yang dianggap paling menarik.
Jika pilihan tersebut berbalas dan memenuhi ketentuan adat, sang perempuan dapat meninggalkan suami pertamanya dan menjalani hubungan baru yang dalam tradisi Wodaabe dikenal sebagai Teegal.
Bagi masyarakat di luar komunitas tersebut, konsep ini tentu terdengar sangat asing.
Dua warga Kabupaten Tanah Laut (Tala), Yuni dan Shely, mengaku sempat syok ketika pertama kali membaca narasi mengenai tradisi tersebut yang beredar di internet.
“Sempat syok juga ketika baca narasi ‘mencuri istri orang’. Kok bisa ada tradisi seperti itu?” kata Yuni.
Rasa penasaran membuat keduanya kemudian mencari informasi lebih jauh melalui internet. Setelah memahami konteks budaya Wodaabe, pandangan mereka pun berubah.
“Setelah googling dan baca-baca, rasanya geli sekaligus aneh. Tapi kalau memang itu bagian dari adat mereka, ya kita harus menghargai. Setiap suku kan punya budaya dan aturan masing-masing,” ujar Shely.
Menurut keduanya, hal terpenting adalah bagaimana tradisi tersebut tidak berujung pada kekerasan.
“Yang jangan sampai terjadi justru sakit hati, dendam, kemudian menyerang istri atau pria yang dipilih. Kalau aturan adatnya memang sudah mengatur dan semuanya berdasarkan pilihan, tentu harus dihormati,” timpal Yuni.
Bukan “Pencurian” dengan KekerasanDalam Festival Gerewol, para pria Wodaabe berdandan selama berjam-jam.
Wajah mereka dirias untuk menonjolkan mata dan bentuk wajah, sementara pakaian adat dihiasi manik-manik, kerang serta bulu burung.
Mereka kemudian menari dalam waktu lama sambil mempertahankan postur tubuh tegap dan gerakan tertentu.
Mata yang jernih, gigi putih, hidung lurus, tubuh tinggi dan ramping menjadi bagian dari standar estetika yang sangat dihargai dalam budaya Wodaabe.
Kaum perempuan menjadi pihak yang menilai dan memilih.
Karena itu, istilah “mencuri istri” lebih tepat dipahami sebagai istilah populer untuk menggambarkan perpindahan pasangan berdasarkan ketertarikan dan persetujuan dalam kerangka adat, bukan aksi kriminal berupa penculikan.
Bahkan, hubungan baru tersebut memiliki mekanisme sosial tersendiri dan dapat diakui sebagai pernikahan kedua dalam adat Wodaabe.
Hal yang menarik dari tradisi tersebut adalah adanya mekanisme sosial untuk meredam konflik.
Wodaabe mengenal Pulaaku, seperangkat nilai yang menekankan pengendalian diri, rasa malu, kehormatan, serta kemampuan menahan emosi.
Karena itu, luapan amarah atau kekerasan terbuka bukanlah respons yang dianggap terhormat.
Suami yang kehilangan istrinya karena pilihan di Gerewol pada dasarnya memiliki pilihan untuk menerima keadaan atau berusaha merebut kembali hati sang istri melalui mekanisme adat, termasuk kembali mengikuti festival berikutnya.
Dengan kata lain, persaingan tidak diarahkan pada adu fisik, melainkan kembali ke arena budaya: berdandan, menari dan berusaha memikat.
Gerewol sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar ajang mencari pasangan.
Festival tersebut merupakan salah satu perayaan penting masyarakat Wodaabe yang hidup secara nomaden di kawasan Sahel dan Sahara, terutama di Niger, Nigeria bagian utara, Chad, Kamerun serta wilayah Afrika Tengah.
Festival biasanya berlangsung setelah musim hujan ketika kelompok-kelompok Wodaabe yang tersebar mulai berkumpul. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk bersosialisasi, merayakan kehidupan, mempererat hubungan antarklan dan menentukan pasangan.
Festival dapat berlangsung sekitar sepekan dengan tarian yang dilakukan berjam-jam. Para penari mempersiapkan penampilan sejak dini hari, termasuk merias wajah dan mengenakan pakaian terbaik mereka.
Menariknya, tidak semua pria otomatis tampil sebagai penari. Kemampuan fisik, usia, standar penampilan dan aturan hubungan antarklan menjadi bagian dari konteks sosial yang mengiringi festival.
Bagi Wodaabe, tubuh pria yang tinggi dan ramping dianggap ideal. Ketampanan tidak hanya dilihat dari wajah, tetapi juga postur, ketahanan fisik dan kemampuan menampilkan gerakan tari dengan anggun.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa standar kecantikan dan ketampanan ternyata sangat dipengaruhi budaya.
Apa yang dianggap ideal di satu masyarakat belum tentu memiliki makna yang sama di masyarakat lainnya.
Bahkan, di Afrika pun terdapat budaya yang memiliki standar sangat berbeda. Jika Wodaabe mengagungkan pria tinggi dan ramping, masyarakat Bodi di Ethiopia justru dikenal memiliki tradisi yang mengaitkan tubuh besar dengan prestise dalam festival tertentu.
Bagi Yuni dan Shely, kisah Gerewol justru menjadi pengingat bahwa dunia memiliki keragaman budaya yang sangat luas.
“Awalnya memang terasa aneh dan bikin kaget. Tapi setelah tahu konteksnya, kita jadi paham bahwa tidak semua budaya bisa dinilai hanya dari sudut pandang budaya kita sendiri,” kata Shely.
Yuni menambahkan, perbedaan adat seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan.
“Yang penting tidak ada kekerasan, tidak ada pemaksaan, dan masyarakat yang menjalankan adat tersebut memang memahami aturan yang berlaku di lingkungan mereka,” ujarnya.
Pada akhirnya, kisah “mencuri istri” dalam Festival Gerewol bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang memilih pria lain.
Di baliknya terdapat gambaran tentang bagaimana sebuah masyarakat memandang ketampanan, cinta, perkawinan, kebebasan memilih, kehormatan dan pengendalian emosi—nilai-nilai yang ternyata dapat memiliki bentuk sangat berbeda ketika dilihat dari budaya lain.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)